Ngobrol Politik "Bedah Parpol Bedah Caleg"


DR. Mulyawan S. Nugraha (Direktur FITRA Sukabumi) pada hari kamis tanggal 13 Maret 2014 sedang memandu acara Ngobrol Politik "Bedah Parpol Bedah Caleg" di Gedung Graha Pena Radar Sukabumi Lantai 1. Acara ini terselenggara atas kerjasama Radar Sukabumi, FITRA Sukabumi, KPUD Kota dan Kab. Sukabumi, Pemda Kota dan Kab. Sukabumi, Radio Elmitra 95,0 FM, SUBI TV, KNPI dan POCARISWEAT

Ajat Zatnika (Manager Program FITRA Sukabumi) berfoto bersama para pimpinan Parpol Islam setelah selesai memandu acara Ngobrol Politik "Bedah Parpol Bedah Caleg" dengan Tema "Benarkah Parpol yang Berazaskan Islam atau Berbasis Massa Islam sudah tidak dilirik oleh Pemilih?", di Gedung Graha Pena Radar Sukabumi pada hari selasa tanggal 18 Maret 2014

FITRA Sukabumi saat Audiensi dengan Bupati Sukabumi




Audiensi dengan Bupati Sukabumi pada hari senin tanggal 10 Maret 2014 di Pendopo Kabupaten Sukabumi, untuk menyampaikan Program Reforma Agraria melalui aset dan akses reform di Kabupaten Sukabumi. Peserta yang hadir dalam audiensi diantaranya perwakilan dari : FITRA Sukabumi, ALJABAR (Aliansi Jawa Barat), PPSW Pasoendan, AMPERA, Wahid Institute dan Tim Pelaksana Program RA

Ada yang lagi "Bertahun Politik"

Istilah Tahun Politik, dimanfaatkan oleh partai politik/caleg untuk menarik simpati RAKYAT dengan menggunakan UANG RAKYAT, ada juga yang menggunakan uang pribadinya (caleg yang nyoba-nyoba ikut berkompetisi dalam Pileg 2014 dengan modal yang ada dan kemampuan terbatas). Salah satu cara untuk menarik simpati RAKYAT adalah dengan pengadaan mobil angkutan untuk RAKYAT, ada yang menggunakan istilah "mobil ambulance layanan/pelayanan gratis", "mobil ambulance gratis", "mobil peduli masyarakat", "mobil gratis untuk umum", "mobil ambulance gratis (nama parpol/nama caleg) untuk rakyat", "mobil ambulance layanan istimewa (nama salah satu caleg)", "mobil bantuan sosial (nama salah satu caleg)" dll. Lucu juga kelihatannya, mendadak banyak mobil angkutan gratis atau ambulance gratis pada tahun politik ("istilah bagi yang berpolitik") dengan corak warna yang bermacam-macam, dilengkapi gambar parpol dan caleg. Pertanyaannya, apakah mobil gratis itu bisa dipergunakan terus oleh rakyat pasca pesta demokrasi selesai ditahun politik ini?, atau jangan-jangan malah digunakan untuk mengangkut para caleg yang sakit jiwa karena tidak lolos dalam pemilu.
Fenomena ini, tidak lain adalah demi memperebutkan kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan serta kekayaan yang diperoleh dari UANG RAKYAT. Coba saja, kalau tidak ada UANG RAKYAT mana ada yang mau berlomba-lomba seperti itu. Menghabiskan uang dari mulai puluhan juta, ratusan juta sampai miliyaran rupiah hanya ingin mendapatkan kekuasaan dan penghasilan dari dan atas penderitaan RAKYAT.
Apa yang bisa kita harapkan dari para pemimpin kita, wakil rakyat kita ke depan. Terkadang harapan itu, hanya sampai pada lisan dan pendengaran saja, tanpa pernah bisa dirasakan manfaat dan dampaknya. 
Selamat bermuhasabah...

FITRA Sukabumi Mendesak Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kab.Sukabumi Untuk Bertanggung Jawab Terhadap PKBM Fiktif

"Terkait Temuan FITRA Soal Dugaan Dana PKBM Fiktif"

Sukabumi - Ketua Tut Wuri Handayani, Rusli Sinegar mendesak bila temuan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Sukabumi terbukti benar soal adanya temuan dugaan penyelewengan aliran dana bagi sejumlah Pusat Kegiatan Balajar Masyarakat (PKBM) Fiktif 2013, maka mantan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi, Zaenal Muttaqien harus bertanggung jawab.
Menurut Rusli selaku Kepala Dinas Pendidikan saat itu, Zaenal tentu mengetahui persis sumber dana dan kucuran anggaran yang akan disalurkan terhadap sejumlah PKBM fiktif yang disebutkan FITRA "Ya tentulah Pak Zaenal pasti tahu semua itu, karena Pak Zaenal pasti ikut menandatangani berita acara penyaluran bantuan." kata Rusli kepada Radar Sukabumi.
Ruslipun meminta Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Non Formal (PNF) Kabupaten Sukabumi, untuk bertanggungjawabkan adanya temuan ini kepada publik. "Benar atau tidak dengan temuan dari FITRA, Kabid PNF juga harus siap tanggungjawab, minimal menjelaskan permasalahan sebenarnya kepada publik atau kepada penegak hukum bila nanti diperlukan." tegas Rusli.
Selain ke pihak Disdik Kabupaten Sukabumi, Rusli juga meminta pihak FITRA tidak setengah-setengah dalam mengekpose temuan penyimpangan anggaran bagi PKBM Fiktif ini. "Saya salut kalau FITRA lebih berani dengan membeberkan data-data valid. Tapi ingat FITRA pun jangan emosional dalam mengungkap temuan ini kepada publik." tukasnya.
Sebelum Direktur FITRA Sukabumi Ajat Zatnika membeberkan indikasi temuan penyimpangan pengelolaan dana bantuan pemerintah pusat untuk PKBM Fiktif di Kabupaten Sukabumi. FITRA mengidentifikasi ada puluhan PKBM Fiktif yang terus menerima kucuran dana dari Disdik Kabupaten Sukabumi, semaktu dipimpin Zaenal Muttaqien.
Contoh praktek kecil penyelewengan kucuran dana bagi PKBM Fiktif itu ungkap Ajat antara lain si pengelola PKBM yang menerima tidak memiliki warga belajar, sedangkan dana untuk pembinaan warga belajar terus diberikan.
Menurut Ajat keberadaan PKBM Fiktif dibawah tanggungjawab PNF Disdik Kabupaten Sukabumi di tahun 2012 saja menerima kucuran dana Rp. 2,5 miliar. Sedangkan di tahun 2013 lalu bertambah menjadi Rp. 5 miliar "Kami siap bergerak untuk membuktikan temuan ini." tukasnya.
Sampai berita ini dimuat, mantan Kepala Disdik Kabupaten Sukabumi Zaenal Muttaqien belum memberikan penjelasan resmi.

Sumber diperoleh dari Koran Radar Sukabumi :
http://radarsukabumi.com/?p=96708

Pemkab Didesak Transparan

Tantang Beber Data Temuan BPK

SUKABUMI - Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Kabupaten Sukabumi mendesak Pemerintah Kabupaten untuk transparan terkait temuan penyimpangan anggaran Rp.13 Miliar. Manajer Program FITRA Ajat Zatnika kemarin menegaskan, pemkab harus tegas dan terbuka menindaklanjuti masalah temuan penyimpangan tersebut. Pasalnya, dengan demikian masyarakat bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Penyimpanan anggaran yang dirilis oleh FITRA berdasarkan audit BPK, memang benar adanya. Sekarang tinggal pemkab berani atau tidak untuk terbuka kepada masyarakat. Kalau ingin selesai masalah ya satu-satunya tinggal buka-bukaan saja," jelas Ajat kepada Radar Sukabumi saat dihubungi kemarin.
Penyelewengan tersebut lanjut Ajat lebih kepada kesalahan di Tata Usaha Pemkab dalam mengeluarkan anggaran. Dengan temuan tersebut secara langsung bahwa sistem administrasi di Pemkab harus diperbaiki.
"Jangan sampai penyelewengan ini sengaja oleh Pemkab, untuk menutupi program lain dengan menggunakan dana program  lain jelas sebuah kesalahan yang harus dibenarkan,"jelasnya.
Lebih lanjut dirinya menegaskan bahwa Pemkab harus segera klarifikasi terkait temuan ini agar masyarakat tidak curiga terkait ke transparansi Pemkab. "Jika pemerintah melakukan klarifikasi ke publik, diharapkan masyarakat mengetahui apa yang terjadi di instansi sehingga jangan sampai membohongi masyarakat." terangnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi Adjo Sardjono menyatakan, penyelewengan anggaran tersebut  tidak sebesar dari apa yang digemborkan-gemborkan. Sayangnya, ia tidak tidak berani mengatakan angka tepat dugaan penyimpangan tersebut. "Saya tidak mengetahui rinciannya berapa, yang pastinya tanya saja ke inspektorat saja," tuturnya.
Penyelewengan dana ini kemungkinan dari kesalahan perhitungan selisih dan aset Pemkab yang belum dikembalikan seperti kehilangan motor dan mobil oleh jajaran pegawai yang belum dilaporkan dan sebagainya. "Saya tidak yakin penyelewengannya mencapai Rp. 13 Miliar," tandasnya (hnd/d).


Sumber diperoleh dari Koran Radar Sukabumi : http://radarsukabumi.com/?p=95221

FITRA Sukabumi Awasi Kesehatan

Cibadak - Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Sukabumi rajin mempelototi bidang kesehatan yang digulirkan di delapan titik desa di Kabupaten Sukabumi. Dalam pengawasan tersebut FITRA merangkul sejumlah orang yang terlibat dalam peran pelayanan kesehatan, diantaranya kader posyandu di wilayahnya masing-masing.
Manajer Program FITRA Sukabumi Ajat Zatnika mengatakan, delapan titik desa itu diantaranya di Kecamatan Kadudampit yaitu Desa Cipetir, Desa Muaradua, dan Desa Sukaresmi. Untuk Kecamatan Cibadak yakni Desa Cibadak dan Babakanpari. Sementara di Kecamatan Cidahu yakni Desa Mekarsari dan di Kecamatan Cicurug ada Desa Kutajaya. "Peran audit sosial kesehatan yang kami lakukan fokus pada tingkat pelayanan dan kondisi kesehatan bagi warga." katanya.
Metode pengawasan audit kesehatan yang dilakukan kata Ajat dituangkan melalui media fotografi. Dimana dari hasil pemotretan tersebut sudah menghasilkan 2.000 lebih hasil foto. "Tapi, cara ini bukan satu-satunya. Praktek pengawasan langsung tetap berjalan untuk memastikan program dan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah dapat berjalan dengan baik." ujarnya.
Berdasarkan data yang diperolehnya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih cukup tinggi bahkan cenderung meningkat dari tahun sebelumnya. "Pada tahun 2012 hingga Juni 2013 ada 76 kasus kematian bayi," jelasnya. (fkr/d)


Sumber diperoleh dari Koran Radar Sukabumi : http://radarsukabumi.com/?p=90627

FITRA Sukabumi Bagikan Kamera untuk Awasi Program Kesehatan

Manager Program FITRA Sukabumi (Ajat Zatnika) saat memberikan kamera kepada Kader Kesehatan di Desa Kutajaya Kecamatan Cicurug

  
  Staff Program FITRA Sukabumi (Samsul Hidayat) saat memberikan kamera kepada Kader Kesehatan di Desa Mekarsari Kecamatan Cicurug


AUDIT sosial kesehatan melalui media fotografi dianggap sebagai cara efektif dalam menyampaikan informasi ke pemerintah. Sebab, foto merupakan bukti yang tidak terbantahkan.
Atas dasar itu, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mennggulirkan kembali Audit Sosial Kesehatan Melalui Media Fotografi. Sebanyak delapan kader kesehatan di Kabupaten Sukabumi dibekali kamera untuk mengabadikan peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan di daerah tersebut. ”Pembagian kamera kepada kader kesehatan ini kami lakukan sejak tahun 2011 lalu,” ujar Humas FITRA, Ajat Jatnika pada Launching Pendalaman dan Perluasan Audit Sosial Kesehatan Melalui Media Fotografi Di Kabupaten Sukabumi Tahun 2013 – 2014 di Gedung Islamik Center, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Rabu (9/10) kemarin.
Dia menjelaskan, banyak manfaat yang bisa dirasakan masyarakat dengan cara tersebut. Diantaranya, dikeluarkannya kebijakan pemerintah yang berdampak terhadap perubahan sosial masyarakat. “Ada sekitar 2000 foto jepretan kader kesehatan dan remaja dan mendapat respon positif dari pemeintah,” ujarnya.
Imbal baliknya, kata dia, Pemerintah Kabupaten Sukabumi  mengalokasikan anggaran kesehatan dalam APBD Tahun Anggaran2011 dari 9,7menjadi 10.6 persen dalam APBD Perubahan Tahun 2011. Sedangkan dalam APBD menjadi tahun 2012 di atas 11 persen.
Selain itu katanya, Pemerintah Kabupaten Sukabumi juga membuat program untuk perbaikan rumah tidak layak huni dan tidak berstandar kesehatan melalui program Tanggap Rumah Sehat (TRS). Sebanyak 367 desa mendapat bantuan hibah pada tahun 2011. “Jika pada tahun 2011 hanya mendapat tiga unit per desa meningkat menjadi lima unit pada tahun 2012 dengan nilai Rp 2 juta per unit,” katanya.
Dampak lain dari audit sosial kesehatan melalui media fotografi, ujarnya menghasilkan beberapa perubahan sosial di masyarakat, diantaranya, yakni adanya inovasi warga dan desa dalam upaya menangani masalah morbiditas dan lingkungan kesehatan. Kemduian, adanya kesadaran warga untuk berperilaku hidup sehat dan kesadaran ibu hamil dan ibu yang membawa balita ke Posyandu. “Tapi, cara ini bukan satu-satunya. Praktik pengawasan harus tetap dijalankan untuk memastikan  program dan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Berdasarkan data yang diperoelhnya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih cukup tinggi, bahkan cemderung meningkat dari tahun sebelumnya. “Pada tahun 2012 hingga Juni 2013 , ada 76 kasus kematian ibu dan 42 kasus kematian bayi,” ucapnya.
Ke depan, kata Ajat, FITRA Sukabumi memperdalam metodologi audit sosial kesehatan dan memperluas wilayah dampingan. Jika sebelumnya hanya empatdesa yakni Desa Cipetir Kec. Kadudampit, Desa Muaradua Kec. Kadudampit, Desa Sukaresmi Kec. Cisaat dan Desa Selajambe Kec. Cisaat, akan ditambah lagi empat desa lagi yakni Kelurahan Cibadak Kecamatan Cibadak, Desa Babakanpari Kecamatan Cidahu, Desa Mekarsari Kecamatan Cicurug danDesa Kutajaya Kecamatan Cicurug. “Ada delapan desa yang akan dilakukanpendampingan pada program audit sosial kesehatan tahun 2013-2014,” jelasnya.(NIF)

Sumber berita diperoleh dari Sentana Online.Com : Klik disini