45 Persen Warga Masih Miskin


26 Maret 2012 Radar Sukabumi


KOORDINASI LSM : Sejumlah pengurus LSM saat menggelar rapat pertemuan di kantor FITRA Sukabumi untuk membahas APBD penanggulangan kemiskinan. mardian radar
CISAAT- Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Informasi Transparansi Anggaran (FITRA) Sukabumi mengklaim jika 45 persen warga Kabupaten Sukabumi masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ini terungkap saat FITRA menggelar pertemuan bersama sejumlah perwakilan LSM di Desa Nagrak Kecamatan Cisaat. Pertemuan ini, juga membahas serapan Anggaran Pengeluaran Dan Belanja Daerah (APBD) dalam menanggulangi kemiskinan di Sukabumi.
Asistan Manajer FITRA Ajat Zatnika menuturkan, dari Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011, tercatat warga miskin di Kabupaten Sukabumi berjumlah 1.296.000 jiwa. Itu artinya, sekitar 45 persen dari total keseluruhan warga masih miskin. “Serapan anggaran pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan masih harus dimonitor. Sebab, ini masih timpang. Di mana, pemerintah hanya terfokus untuk menutup biaya pegawai saja,” ulasnya.
Besaran dana yang kami peroleh  dari Budget Resource Center atau Pusat Pengetahuan Anggaran Kabupaten Sukabumi 2011 menyebutkan, pendapatan APBD  yang diperoleh yaitu Rp1.817.709.615 yang terdiri dari pendapatan  daerah Rp138.028.720 (7,59%),dana perimbangan Rp1.210.908.072 (66,61%) dan pendapatan lain-lain yang sah Rp468.772.8223;(25,78%). Anggaran belanja selama 2011 yaitu berjumlah Rp1.982.638.000 yag terdiri dari (1) belanja ;angsung satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Rp102.089.113 (12,77%),Belanja langsung Urusan Program(BL-UP) Rp.697.122.491 (87,22%) dan (2) belanja tidak langsung Rp 1.183.638.000 yang terdiri dariBelanja Pegawai Pemkab-DPRD Rp 946.871.672 (79,99%) dan belanja bagi hasil Rp 12.452.655 (1,05%)  program non SKPD  terdiri dari Belanja hibah Rp 157.332.487 (13,29%),belanja Bantuan Sosial Rp 6.784.500 (0.57%), Belanja Bantuan Keuangan Rp50.021.081 (4,25%) dan belanja tak terduga Rp 10.000.000 (0,84%).
Jadi dari rincian itu, dapat disimulasikan belanja dalam APBD Kabupaten Sukabumi tahun 2011 sebesar Rp 1.982.638.000 dan bisa dirumuskan secara “leluasa” atau Diskresi keuangan daerah oleh pemda dan DPRD Kabupaten Sukabumi sebesar Rp 921.224.559 yang dialokasikan untuk Aspirasi masyarakat melalui musrenbang kecamatan/pagu kewilayahan (10% atau sekitar Rp 92 miliar), program/kegiatan SKPD sesuai renstra/renja SKPD (80% sekitar Rp 737 miliar),Alokasi untuk Implementasi kebijakan kepala daerah/bupati (5% atau sekitar Rp 46 miliar) dan untuk alokasi aspirasi anggota DPRD (5% atau sekitar Rp46 miliar).
Untuk menentukan besaran alokasi perwilayah kecamatan,Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) melakukan perhitungan secara teknokraatis dengan merujuk   pada obyektif kecamatan dan data-data IPM.paparnya pada seluruh anggota dalam pertemuan tersebut.
Asistent Sekretaris dari Oemberdayaan Perempuan dan Transformasi Sosial (PPSP) Pasundan juga menuturkan program yang sedang dilaksanakannya yaitu Peningkatan partisiasi peremouan dalam memajukan pemenuhan hak-hak dasar perempuan miskin dalam bidang Ekonomi,Pendidikan,dan Kesehatan di tingkat Desa.
Dari impelemntasi RPMI, ada enam desa  di kecamatan Sukabumi,cicantayan, dan gunung guruh yang dijadikan desa inti pembeljaran dan dua desa yang di jadikan model desa intergrasi yaitu desa Hegar manah di kecamatan cicantayan dan desa sukamanis di Kadudampit.
Sekretaris PNPM Dede mengusulkan pada pertemuan selanjutnya diharapkan  ada nya agenda tematik khusus yang di bahas  dan mengenai rencana selanjutnya, dan itu sekaligus menutup pertemuan tersebut dengan rencana aka di lanjutkan kembali pada pertemuan selanjutny di sekertariat pnpm kota sukabumi.(cr7)
Sumber: http://radarsukabumi.com/?p=7025

Pasien Dibebani Kenaikan Biaya Operasional

Herlambang Jaluardi | Agus Mulyadi | Senin, 12 Maret 2012 | 22:59 WIB


shutterstock Ilustrasi
SUKABUMI, KOMPAS.com - RSUD R Syamsudin SH, Kota Sukabumi, Jabar, berencana menaikkan biaya perawatan untuk menutupi kebutuhan operasional dan perawatan. Rata-rata kenaikan 30 persen, dan selambat-lambatnya diberlakukan Mei mendatang.
Kenaikan ini untuk mencukupi kebutuhan operasional rumah sakit, dan juga memperbaiki tingkat pendapatan asli daerah sementara (PADS).
"Selain itu, kenaikan untuk menambah subsidi silang pada bulan-bulan tertentu saat banyak pasien," kata Direktur RSUD R Syamsudin SH, Suherman, Senin (12/3/2012).
Ia mengatakan, kenaikan biaya pelayanan itu didasarkan pada Perda Nomor 21/2011 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan Kelas 3RSUD R Syamsudin SH, yang ditetapkan pada 30 Desember 2011.
Akibat dari peraturan tersebut, biaya rawat inap di Kelas 3 yang sebelumnya Rp 30.000 per hari, meningkat menjadi Rp 50.000 per hari. Rinciannya, Rp 35.000 untuk biaya jasa rumah sakit, dan Rp 15.000 untuk biaya jasa pelayanan. Biaya tindakan medis menjadi Rp 4.500 hingga Rp 15.000, tergantung jenis tindakannya.
Suherman menambahkan, mata biaya operasional yang dimaksud, antara lain untuk membiayai tagihan listrik, air, pemeliharaan peralatan, serta makanan bagi pasien. Sementara untuk peremajaan alat kesehatan seperti pemutakhiran sarana operasi, merupakan tanggung jawab pemerintah daerah.
Total penerimaan rumah sakit itu pada 2011 menurut Suherman sekitar Rp 87 miliar. Sebesar 56 persen di antaranya digunakan untuk biaya operasional dan perawatan rumah sakit. Sisanya digunakan untuk biaya peningkatan kapasitas SDM (sumber daya manusia).
"Kenaikan biaya operasional itu nantinya juga untuk rekrutmen perawat baru," lanjut Suherman.
Pengguna jasa rumah sakit keberatan dengan rencana kena ikan biaya tersebut. Terlebih lagi, saat ini, masyarakat sedang cemas dampak dari rencana kenaikan harga BBM. Kenaikan biaya operasional disebutkan memberatkan masyarakat yang tidak mendapat layanan baik Jamkesmas maupun Jampersal.
"Jika rumah sakit tetap menaikkan biaya pelayanan, kami berharap ada perbaikan jasa kepada kami. Salah satunya adalah ketepatan jadwal pemeriksaan dokter. Ibu mertua saya sudah dua hari dirawat inap di sini, tetapi belum sekalipun diperiksa oleh dokter," kata Endin (42), warga Kecamatan Cisaat yang sedang menjaga mertuanya.
Ajat Zatnika, Manager Program Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Sukabumi, mengatakan, pihak rumah sakit harus memberi jaminan kepada masyarakat akan adanya peningkatan kualitas layanan kesehatan. Salah satunya menyangkut ketersediaan dokter dan kecakapan perawat.
"Dokter yang bertugas di rumah sakit harus memprioritaskan melayani pasien yang dirawat di rumah sakit, bukan yang di tempat praktek pribadi mereka. Hal ini masih sering terjadi di sejumlah rumah sakit pemerintah," kata Ajat.
Sumber: http://regional.kompas.com/read/2012/03/12/22594628/Pasien.Dibebani.Kenaikan.Biaya.Operasional..

Dede, Nantikan Bantuan Dermawan

* Masih Bocah Derita Hernia

BUTUH BANTUAN : Dede, bocah pengidap hernia asal Kadudampit yang membutuhkan uluran dermawan. japar radar

KADUDAMPIT- Dede Supriatna (6) sepertinya tidak bisa menikmati keindahan masa kanak-kanak. Betapa tidak, bocah asal Kampung Legok Nyenang RT 04 RW 06 Desa Muaradua Kecamatan Kadudampit ini mengidap penyakit penyakit hernia (turun bero).
Sejak usia tiga tahun, penyakit itu ia derita. Ayahnya Didin, yang hanya bekerja sebagai buruh tani serabutan dan berpenghasilan rendah, tidak memenuhi kebutuhan sehari-harinya, apalagi untuk mengobati anaknya. Ibunya Atih, sudah meninggal ketika Dede berumur dua bulan. Upaya yang dilakukan saat ini hanya melakukan pengobatan tradisional dan alternatif saja. Hingga sampai saat ini belum ada upaya pengobatan secara medis.
Didin, berharap agar anaknya mendapat bantuan untuk mengobati penyakitnya “saya berharap sekai akan adanya bantuan untuk mengobati anak saya,” kata lelaki 40 tahun itu.
Menurut salah seorang kader Desa Muaradua Aan (32), entah beberapa bulan ke belakang pernah ada dari dinas kesehatan datang untuk mengobati Dede. Sayang, sampai detik ini, petugas itu tak kunjung kembali. “Saya pun merasa kasihan terhadap anak itu. Makanya, saya juga berharap agar pihak dinas kesehatan datang lagi kesini guna untuk menindak lanjut dari penyakit yang diderita dede,” ujarnya.
Maka dari itu, warga berharap kepada instansi yang bersangkutan agar segera memperhatikan kondisi kesehatan dede, mungkin yang lebih khususnya untuk pihak Dinas kesehatan kabupaten Sukabumi untuk segera menindak lanjuti penyakit yang menimpa Dede. (cr4)

Anggaran Kesehatan Minus Rp110 M

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/449556/
Anggaran Kesehatan Minus Rp110 M PDF Print
Wednesday, 07 December 2011
SUKABUMI– Pemkab Sukabumi hanya mampu mengalokasikan anggaran untuk sektor kesehatan sekitar Rp190 miliar atau sekitar 10% dari total belanja daerah pada APBD 2012 yang mencapai Rp1,9 triliun.


Kebutuhan anggaran sektor kesehatan di wilayah Sukabumi sendiri mencapai Rp300 miliar. Dengan kemampuan daerah yang hanya mengalokasikan anggaran Rp190 miliar, maka sektor kesehatan minus Rp110 miliar. Kepala Seksi Peran Serta dan Kemitraan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi Eka Widiaman menjelaskan, kebutuhan anggaran untuk menutupi seluruh sektor kesehatan yang meliputi operasional dan belanja langsung pada Dinkes, puskesmas, dan tiga ruah sakit umum daerah, diperkirakan mencapai Rp300 miliar atau paling tidak 15% dari total belanja daerah.

”Untuk Dinas Kesehatan saja dibutuhkan anggaran Rp33 miliar. Jumlah ini belum mencakup kebutuhan anggaran untuk 58 puskesmas dan tiga rumah sakit.Artinya, pengalokasian anggaran pada APBD 2012 ini relatif minim dibandingkan dengan kebutuhan anggaran kesehatan secara keseluruhan. Keterbatasan pengalokasian anggaran ini merupakan akibat minimnya kemampuan keuangan daerah,” jelas Eka. Untuk menutupi kekurangan anggaran ini,Pemkab Sukabumi mengandalkan bantuan dana dari pemerintah pusat melalui bantuan operasional kesehatan (BOK).

Dana bantuan operasional tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi puskesmas.Untuk 2012,setiap puskesmas mendapatkan BOK sebesar Rp68 juta. Manager Program Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Sukabumi Ajat Jatnika menerangkan,selama ini pemerintah daerah hanya berkutat pada pengalokasian anggaran kesehatan yang ditujukan pada peningkatan infrastruktur.Padahal perluasan akses dan peningkatan mutu kesehatan merupakan permasalahan kesehatan yang juga harus diprioritaskan.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi Ayi Abdulah mengatakan, peningkatan pengalokasian anggaran sektor kesehatan akan dilaku-kan secara bertahap. ”Karena kemampuan keuangan daerah sangat terbatas,maka penambahan anggaran akan dila-kukan secara bertahap,”tegasnya. toni kamajaya

Anggaran Kesehatan Kabupaten Sukabumi Belum Mampu Menyelesaikan Masalah Kesehatan


Anggaran Kesehatan Kabupaten Sukabumi
Belum Mampu Menyelesaikan Masalah Kesehatan
By. FITRA Sukabumi
FITRA Sukabumi bersama-sama dengan kader kesehatan dari sejak Januari 2011 sampai dengan Oktober 2011 telah melakukan pemantauan dengan metode audit sosial kesehatan melalui media fotografi terhadap kondisi kesehatan yang ada di 4 Desa, yaitu Desa Sukaresmi, Desa Selajambe Kecamatan Cisaat, dan Desa Cipetir, Desa Muaradua Kecamatan Kadudampit. Dari hasil pantauan telah didapat sekitar 1000 foto masalah kesehatan, baik dari aspek layanan kesehatan, lingkungan dan perilaku.
Foto bernarasi yang dihasilkan warga menggambarkan realitas kesehatan masih menjadi permasalahan utama yang dihadapi masyarakat dan belum tertangani secara maksimal oleh pemerintah daerah. Hal tersebut merupakan bukti dasar (evidence base) yang tidak bisa dipungkiri, bahwa upaya pemerintah Kabupaten Sukabumi belum maksimal dalam menangani masalah kesehatan, diantaranya :
1. Masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga masih ada warga yang terpaksa menggunakan air kotor untuk mandi, memasak dan mencuci
2. Balita dari keluarga miskin yang menderita demam dan kejang-kejang meninggal dunia karena tidak memiliki biaya untuk berobat
3. Banyak warga miskin yang enggan menggunakan fasilitas Jamkesda dikarenakan tidak mempunyai biaya untuk menunggu, kalaupun ada dari Pemerintah Daerah masih dianggap kurang
4. Kematian bayi sering terjadi disebabkan karena faktor kemiskinan yang berakibat terhadap diskriminasi layanan kesehatan
5. Sampah menumpuk dimana-mana yang tidak pernah terselesaikan sampai sekarang
6. Jalan banyak yang rusak yang mengakibatkan sulitnya akses bagi warga menuju pusat layanan kesehatan
7. Dengan dana PMT yang minim, belum bisa menjawab pemenuhan gizi bagi balita dari keluarga miskin
8. Banyak warga yang tidak tahu bagaimana berperilaku hidup bersih dan sehat.
9. Banyak MCK warga yang belum sesuai dengan standar kesehatan
10. Banyak warga miskin yang tidak memiliki jamban keluarga
11. Banyak rumah warga miskin yang tidak layak huni dan tidak sesuai dengan standar kesehatan
12. Diskriminasi layanan kesehatan bagi warga miskin khususnya di Rumah Sakit, dll.
Dalam konteks Kabupaten Sukabumi, berbagai fenomena permasalahan kesehatan yang muncul, selama ini tidak pernah terpublikasikan secara obyektif baik dari aspek layanan, lingkungan dan perilaku, misalnya dengan bentuk visualisasi foto atau gambar. Sehingga pemerintah daerah, DPRD, stakeholder kesehatan dan masyarakat lainnya tidak bisa mengetahui masalah yang dihadapi sebenarnya, sedangkan visualisasi tersebut sangat penting untuk menumbuhkan kepekaan bagi semua pihak terutama pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan hak dasar masyarakat.
Beberapa upaya strategis yang dapat dilakukan dalam menangani permasalahan kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan di Kabupaten Sukabumi di antaranya melalui :
1. Anggaran di daerah
Anggaran sebagai proses politik merupakan muara pembangunan yang berpihak pada rakyat. Keberpihakan Pemerintah daerah terhadap kesejahteraan masyarakat salah satunya harus bisa memperhatikan kebutuhan masyarakat dalam bidang kesehatan yaitu mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, optimal, adil dan merata, akan tetapi kebijakan tersebut tentunya dapat dilihat dari orientasi kebijakan Pemerintah Daerah dalam menyusun APBD. Artinya bahwa APBD dapat menunjukkan ke arah mana keberpihakan dan kebijakan Pemerintah Daerah ditujukan.
2. Peran serta masyarakat
untuk mendukung terjaminnya hak warga atas kesehatan, maka perlu peran serta masyarakat untuk berpartisipasi menentukan haknya terutama hak atas kesehatan. Partisipasi masyarakat dalam menentukan hak atas kesehatan pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga ranah, yaitu; dalam pembuatan kebijakan, keputusan alokasi anggaran, dan praktik operasional kepemerintahan dengan mendudukkan warga sebagai aktor kunci. Dengan terbentuknya Forum Silaturahmi Kabupaten Sukabumi Sehat (FSKSS) di Kabupaten Sukabumi diharapkan menjadi embrio terbentuknya Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) yang merupakan amanat UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, sebagai inovasi daerah yang merangkul semua elemen masyarakat dalam penyelesaian masahalah kesehatan.
3. Peran serta dunia usaha
Dengan alasan keterbatasan anggaran daerah, maka pemerintah daerah dapat merangkul para pelaku dunia usaha untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan kesehatan di masyarakat.
Kondisi Anggaran Daerah dan Anggaran Kesehatan Kabupaten Sukabumi
APBD Kabupaten Sukabumi pada tahun 2011 untuk total belanja sebesar Rp. 1.764.268.785.000,- mengalami kenaikan sebesar 12,20% dibandingkan total belanja APBD Tahun 2010, sedangkan total pendapatan sebesar Rp. 1.576.394.639.000,- mengalami kenaikan sebesar 19,57% dibandingkan total pendapatan tahun 2010, sehingga terjadi defisit sebesar Rp. 187.874.146.000,-.
Pada komponen pendapatan daerah, APBD Kabupaten Sukabumi tahun 2011 masih didominasi yang bersumber dari dana perimbangan sebesar Rp. 1.195.515.402.000 (sekitar 75,84%) dari total pendapatan daerah, dengan alokasi DAU sebesar Rp. 972.025.825.000,- (81,31% dari total dana perimbangan). Untuk pendapatan asli daerah (PAD) Tahun 2011 sebesar Rp. 125.879.976.500,- (7,99% dari total pendapatan daerah), pajak daerah menjadi pendapatan terbesar 36,09% dari total PAD dan yang kedua bersumber dari retribusi daerah sekitar 29,86%.
Untuk komponen belanja daerah, bahwa komposisi Belanja Tidak Langsung (BTL) lebih besar daripada Belanja Langsung (BL), yaitu BTL sebesar Rp. 1.059017.013.598,- (60,03% dari total belanja daerah), sedangkan BL sebesar Rp. 705.251.771.402,- (39,97% dari total belanja daerah).
Alokasi anggaran sektor kesehatan di Kabupaten Sukabumi pada APBD Murni Tahun 2011 sebesar Rp. 171.789.011.008 (9,74% dari total belanja daerah) mengalami peningkatan pada APBD Perubahan menjadi Rp. 210.555.908.871 (10,62% dari total belanja daerah) hal ini berarti bahwa Kabupaten Sukabumi sudah mampu melewati amanat Pemerintah dengan mengalokasikan lebih dari 10%. Namun alokasi anggaran kesehatan di Dinas Kesehatan pada tahun anggaran 2011 masih didominasi oleh anggaran yang penggunaannya untuk kegiatan kuratif sekitar 53%, kegiatan promotif 18%, kegiatan preventif 4% dan lain-lain sekitar 25%, sedangkan untuk rehabilitatif 0%.
Untuk orientasi program kesehatan di Kabupaten Sukabumi tahun anggaran 2011, masih berorientasi pada peningkatan infrastruktur sebesar 40% sedangkan peningkatan mutu sebesar 27,5% dan peningkatan akes sebesar 29,2%, hal ini bertolak belakang dengan indikator peningkatan derajat kesehatan yang menjadi prioritas utama pembangunan daerah Kabupaten Sukabumi pada poin 4 dalam RKPD 2011 yaitu melakukan peningkatan derajat kesehatan dan pelayanan sosial kabupaten sukabumi.
Jika ditinjau dari program-program yang mendukung untuk menunjang indikator kesehatan yaitu berupa layanan, lingkungan dan perilaku. Pada tahun 2011, anggaran yang terdapat di Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi banyak teralokasikan untuk program-program yang mendukung kepada layanan kesehatan sebesar 15,7 Milyar (46,5%) dan program lainnya sebesar 14,1 Milyar (41,8%), sedangkan untuk anggaran yang mendukung kepada upaya perbaikan perilaku hanya sebesar 2,5 Milyar (7,6%) dan yang paling kecil adalah anggaran yang mendukung perbaikan lingkungan hanya sebesar 1,4 Milyar (4,2%).
Berdasarkan kajian analisis FITRA Sukabumi terhadap kondisi anggaran kesehatan tersebut, pemerintah Kabupaten Sukabumi lebih mengedepankan kepada layanan kesehatan, namun hal tersebut tidak bersinergis dengan orientasi program kesehatan, yang ternyata baru pada tahap peningkatan infrastruktur kesehatan, artinya orientasi terhadap peningkatan infrastruktur lebih tinggi daripada peningkatan akses dan mutu kesehatan. Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan orientasi program dan item-item program kesehatan tersebut dapat mengatasi permasalahan kesehatan yang ada di Kabupaten Sukabumi? Harapannya ini harus menjadi kajian bersama, bahwa permasalahan kesehatan yang muncul tentunya dapat teratasi dengan pola kebijakan, program dan anggaran kesehatan yang betul-betul memprioritaskan kepada pemenuhan kebutuhan hak dasar kesehatan bagi rakyat.
Sukabumi, 30 November 2011
FITRA Sukabumi

2.580 Bayi di Sukabumi Meninggal Setiap Tahun

Rabu, 16 November 2011 - 20:14 WIB

SUKABUMI (Pos Kota) – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terbilang masih tinggi. Faktornya 45 persen karena lingkungan, sementara 34 persennya karena faktor prilaku.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupetan Sukabumi menyebutkan, AKB mencapai 43 jiwa per seribu kelahiran. Artinya dari seribu kelahiran, sebanyak 43 bayi meninggal dunia.
“Ini membuktikan masih buruknya faktor lingkungan masyarakat kita terhadap kematian bayi dan ibu. Terutama dalam penyediaan sarana air bersih dan fasilitas mandi cuci kakus (MCK),” kata Pelaksana Tugas Harian (PLH) Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Sukabumi, Iwan Ridwan, di sela-sela diskusi kesehatan yang digelar Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Rabu (16/11).
Dijelaskan Iwan, setiap tahunnya di Kabupaten Sukabumi terdapat sekitar 60 ribu kelahiran balita. Jika dihitung dengan angka kematian bayi sebanyak 43 jiwa per seribu kelahiran, maka terdapat sekitar 2.580 bayi yang meninggal per tahunnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Promosi Kesehatan (Promkes), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, Ujang Zulkifli menjelaskan, tingginya angka kematian ibu dan bayi lantaran faktor lingkungan dan perilaku.
“Misalnya masih banyak warga yang lebih percaya paraji atau dukun anak dibandingkan tenaga kesehatan. Dari data dinkes, sekitar 75 persen ibu melahirkan oleh tenaga kesehatan, sisanya oleh paraji atau dukun beranak,” ungkapnya.
Di samping faktor lingkungan dan perilaku, kata Ujang, masalah layanan kesehatan juga merupakan salah satu faktor. Menurutnya, sepanjang 2011 ini petugas di lapangan baru menemukan sebanyak 200 lebih bayi yang meninggal. Jumlah itu akan bertambah banyak hingga akhir 2011 mendatang. (sule/b)
Sumber: http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/11/16/2-580-bayi-di-sukabumi-meninggal-setiap-tahun